baru aja dapet email dari rekan yang bertanya pada saya mengenai CoA dari Operating System miliknya. Oya, CoA itu Certificate of Authenticity, selalu disertakan pada saat kita membeli Operating system Windows baik dalam bentuk CD ataupun OEM. Ada satu hal yang menarik, yakni saat teman saya bertanya “apakah saya bisa mendapatkan program berlisensi hanya dengan membayar 150 ribu rupiah?”. Spontan saya jawab “tidak bisa, karena harga terendah sebuah lisensi Windows XP Profesional sekitar 70 dollar amerika, mungkin ada yang bisa menjual lebih murah.
Dua hari yang lalu, saya sempat mengunjungi suatu komunitas dan menemui seseorang yang dengan lantang dan berapi2 memasarkan linux pada teman teman komunitas yang lain. banyak jargon yang diberikan, seperti linux adalah free, linux bebas virus, dan jargon indah lainnya. Sejenak saya teringat beberapa tahun yang lalu, saya seperti melihat diri saya sendiri beberapa tahun lalu, mengunduh besar2an banyak distro, memasarkannya ke teman-teman dengan iming iming gratis instalasi dan CD installer, yang tak jarang mengandung sedikit unsur pemaksaan. Saya tidak menyalahkan sepenuhnya orang tersebut, berteriak dan bersemangat dengan “semangat opensource” nya mengajak orang lain untuk bermigrasi besar besaran, sungguh suatu hal yang wajar karena mungkin sensasi linux pertama yang memang sangat menggoda baginya.
Tadi malam, saya iseng melakukan blogwalking dan baca baca beberapa thread di forum IT. dan sontak terperangah dengan tulisan tentang pengkastaan user berdasarkan distro linux yang dipakai. misal : LFS merupakan distro bagi para Dewa, Slackware dan Gentoo dikhususkan untuk para suhu suhu linux; ubuntu , fedora dan opensuse merupakan distro untuk newbie. Pertama kali saya memakai linux adalah ubuntu linux, atas dasar apa?karena memang saat itu hanya ubuntu yang santer terdengar di kuping saya. Saya yang masih teramat hijau (kaya sekarang ga aja!xixixi) akhirnya menyempatkan waktu untuk berkenalan dengan fundamental linux dari ubuntu, dan anda tahu? itu pun sangat susah. kemudian saya sempat berganti Fedora karena berusaha mengakrabkan diri dengan modul modul networking dan config pada redhat linux. setelah puas saya pun beralih ke slackware linux full dengan tampilan CLI dan kesederhanaannya. Tidak lama dengan slackware pun saya berpindah ke Debian demi kepentingan membentuk VPN. dan sekarang, akhirnya saya memakai linuxmint sebagai OS pada laptop saya bersanding dengan Debian linux, untuk kepentingan project server saya.
Saya suka linux. karena dengan linux saya merasa memiliki komputer sendiri, dan sesuai dengan semangat saya yang senang berdiskusi dan blak blakan. linux memberikan itu untuk saya, saya bisa belajar untuk melakukan troubleshooting terhadap komputer saya sendiri, saya mulai akrab dengan semua log dan segala proses yang berjalan di belakang sistem yang notabene sering disembunyikan oleh OS lain. sampai sampai saat saya membutuhkan koneksi dial up pun saya harus mengerti string string yang harus diberikan guna mengadakan koneksi PDP dan apa itu Integency Network.
Lalu, apakah saya fanatik?tidak. kalau saya fanatik tentunya saya akan memaksa habis habisan teman saya yang ingin mempunyai OS asli hanya dengan 150 ribu perak untuk memakai linux. toh, saya pikir untuk apa juga memakai OS Windows asli akan tetapi program yang bercokol di dalamnya masih dalam bentuk bajakan. ya saya pikir daripada harus setengah setengah, mendingan sekalian saja, toh OS bajakan pun tidak susah mencarinya di indonesia. jikalaupun saya fanatik pun, saya pasti akan mendukung 100 persen kegiatan teman tadi yang mengajak dengan setengah memaksa untuk bermigrasi ke linux. dan apabila saya suka atas pengkastaan user tersebut, pasti saya akan memilih distro linux from Scratch agar dianggap “dewa” oleh orang lain.
Menurut saya, kita harus kembali ke esensi dasar dari pemakaian suatu komputer. untuk apa komputer itu diciptakan, karena sesungguhnya komputer itu diciptakan untuk membantu manusia. so , untuk saya lebih baik memakai komputer disesuaikan dengan kebutuhan dan fungsi dasar tersebut. Saya hanya membutuhkan aplikasi dasar seperti mengetik, mendengarkan musik dan menonton film sesekali, dan saya rasa itu bisa diselesaikan dengan program Openoffice, SMplayer, dan Rhythmbox. ketiga program dasar itu sudah saya rasa cukup untuk melakukan pekerjaan sehari hari. Akan tetapi, apabila Anda berkerja di bidang teknik dan Desain Grafis, saya tidak menyarankan untuk memakai linux. walaupun sebagian besar mesin mesin dirancang di bawah bahasa UNIX tapi sampai saat ini, Linux masih belum memiliki padanan program-program teknik yang bagus. Anda seorang manajer yang sering bermain dengan Aplikasi Money Program? lagi lagi saya tidak menyarankan untuk memakai linux, karena sampai saat ini aplikasi seperti itu belum ada dan reliable berjalan di linux. Namun, jika anda adalah seorang System Administrator, mungkin linux bisa menjadi salah satu alternatif untuk dijadikan Computer Server anda. Anda sering bekerja dengan Program yang menggunakan Database? anda dapat menggunakan MySQL dan Crontab sebagai pengatur jadwalnya. Anda butuh suatu komputer yang bisa di otomatisasi dalam segala hal, baik dalam sisi pemeliharaan integritas filesystem dan reabilitas suatu program? saya sarankan anda menggunakan linux. karena memang seperti itu adanya, linux masih susah untuk menjelma menjadi sebuah komputer Desktop yang memiliki fitur kemudahan dalam segala sisinya bagi End-user yang awam akan komputer. Buat saya, kenapa saya akhirnya bermigrasi total dari Windows ke linux? karena alasan Linux lebih dekat dengan pekerjaan dan hobi saya. Jadi bukan berarti tidak mungkin jika suatu saat saya membutuhkan, saya akan bermigrasi kembali ke Windows ataupun OSX.
Best Regards
Aditya Andika Wicaksono